Friday, December 23, 2005

Tak Butuh Kalimat

Pertobatan itu...
Suatu proses
Bukan suatu momen

Proses yang perlahan-lahan
mengubah hidup kamu

Mulai dari kamu berkomitmen
"Gue nggak akan melakukan apa-apa yang nggak baik lagi"
Sampai orang lain yang melihatmu berkata
"Sesungguhnya ia telah bertobat"

Tidaklah perlu mengatakan
"Gue udah bertobat nih"
"Gue bukan gue yang lama lagi"
"Udah insyaf nih, beneran"
"Bla bla bla..."

lalu melakukan
hal-hal yang berlebihan lainnya
untuk memaksaku mengetahui
kamu sudah berubah

Sobatku,
Saat aku melihat sinar matamu
untuk pertama kalinya setelah sekian tahun tidak bertemu
Aku tahu
Kamu bukan yang dulu

Yang hanya perlu kamu lakukan saat ini
adalah terus menunjukkan komitmenmu itu

dengan tutur katamu
pertama-tama

lalu,
dengan sikapmu
dan perbuatanmu

Sobat,
Aku tak butuh kalimat

------------------------------------------------------------

Untuk J.K.S

Merry Christmas and Happy New Year

Saturday, December 17, 2005

My Little War

Cerita ini sudah lama sekali, sewaktu saya baru masuk kuliah. Tepatnya ketika saya baru saja menyelesaikan Masa Orientasi di kampus. Saya sudah menceritakan ini ke teman-teman saya (yang saya kira sudi untuk mendengarnya, tentunya), tapi serunya pengalaman ini membuat saya ingin menceritakannya terus dan terus.

Saat saya sedang praktikum biologi dasar di siang hari, saya merasakan adanya keganjilan di celana dalam saya bagian belakang. Sepertinya ada sesuatu yang nyangkut. Rasanya nggak enak. Nggak nyaman!
Ketika saya mencoba untuk merabanya dari luar, saya tidak merasakan ada apa-apa di dalam. Tapi tetap saja saya merasa nggak nyaman. Yang pertama kali terlintas di benak saya,

"Jangan-jangan gue cebok gak bersih nih..."

Untuk memastikannya, saya pergi ke toilet pria. Untung saja saat itu tidak ada orang di dalam wc, karenanya saya bisa bebas meng-explore bagian-bagian tubuh saya.

Ketika tangan saya sudah menyentuh bagian belakang, saya masih tidak dapat merasakan dan menyentuh apapun. Maka saya memutuskan untuk melakukan penterasi lebih dalam dengan jari.

Saat itulah saya menyentuh sesuatu seperti karet.

Pikir saya, "waduh, gue nelen permen karet trus gak bisa dicerna. Keluar utuh deh..."

Saya lantas mengambil suatu keputusan yang cukup berani. Menariknya!

Saat saya menariknya, saya merasa ada sesuatu yang tidak beres. Kenapa karetnya panjang sekali? Walaupun hanya membutuhkan waktu sepersekian detik untuk menariknya, tapi tetap saja terasa kalau benda itu lebih panjang dari permen karet pada umumnya. Mungkinkah metabolisme pencernaan saya memungkinkan terjadinya perubahan ukuran dan elastisitas permen karet?

Dengan nekat, saya mencoba melihat benda tersebut sambil tetap memegangnya.

Cacing dengan panjang 10 cm lebih dengan warna pink dan tubuh beruas-ruas, sambil menggeliat, sudah cukup menghadirkan pemandangan yang sangat mengerikan yang pernah saya lihat seumur hidup. Spontan, saya langsung membantingnya ke lantai sambil sedikit menjerit. Keluarlah pernyataan,

"You want a war? You'll get it!".

Sepulang dari kampus, saya membeli combantrin dan meminumnya sesampainya di asrama. Perang selesai.

Saya teringat ketika saya mengikuti Masa Orientasi, kami dikumpulkan para panita untuk makan siang di aula. Makan siang tanpa sendok garpu!!!
Padahal sebelumnya kami disuruh mengumpulkan daun-daun yang berserakan di halaman kampus.

Invasi pun tak terhindarkan.

LOVE GAME

"This is just a game. I'm the player, you're the one who takes control", she said.

"But i won't be responsible should anything bad happen, ok!", i replied.


Sorry, i don't love you but i do enjoy this game.

-December 15th, 2005-